PERSEPSI DAN PENGARUH SISTEM PEMBAGIAN JASA PELAYANAN TERHADAP KINERJA KARYAWAN DI RUMAH SAKIT JIWA MADANI

 

ABSTRAK

Latar belakang: Revisi sistem insentif yang diterapkan pada bulan Juni 2004 telah memicu berbagai keluhan, terutama dari perawat dan tenaga kesehatan lainnya. Menurut persepsi mereka, revisi sistem insentif tersebut tidak adil dan cenderung lebih menguntungkan para dokter.

Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi dampak revisi system insentif di Rumah Sakit Jiwa Madani dan korelasi antara persepsi dan kinerja staf setelah revisi sistem insentif.

Metode: Penelitian kuasi-eksperimental ini menggunakan rancangan pre dan post test, tanpa kelompok kontrol. Subjek adalah seluruh staf rumah sakit (n=202). Variabel independennya adalah revisi sistem insentif dan persepsi staf terhadap sistem insentif tersebut, sedangkan variabel dependennya adalah kinerja dokter (yaitu presensi, jumlah pasien, jumlah visite) dan kinerja staf (kualitas pekerjaan, beban kerja, efektivitas biaya dan inisiatif). Instrumen penelitian. menggunakan kuesioner dan dokumen yang tersedia. Analisis

deskriptif dan uji paired t-test dan product moment correlation digunakan dalam analisis data.

Hasil: Revisi sistem insentif menyebabkan penurunan bermakna persepsi keseluruhan terhadap sistem insentif (1,7%) dan peningkatan bermakna dalam kinerja dokter sebesar 6.7%. Persepsi staf berkorelasi bermakna dengan kinerja staf, dengan korelasi tertinggi pada dokter (r 0,88). Pada perawat, revisi sistem insentif tersebut justru menurunkan persepsi mereka terhadap aspek keadilan dan persepsi keseluruhan, serta sistem insentif tersebut tidak mempengaruhi kinerjanya.

Kesimpulan: Revisi sistem insentif menurunkan persepsi staf, yang selanjutnya berkorelasi dengan kinerjanya.

Kata Kunci: sistem insentif, persepsi dan kinerja staf

 

 

PENGANTAR

 

Desentralisasi merupakan tantangan berat bagi Rumah Sakit Jiwa (RSJ) untuk tetap eksis dalam memberikan pelayanan kesehatan pada masyarakat. Pasien jiwa umumnya membutuhkan perawatan yang panjang dan bahkan sampai seumur hidup. Dampak ekonomi bagi keluarga sangat berat dan dapat menyebabkan kesulitan pembiayaan perawatan.

Rumah Sakit Jiwa Madani (RSJM) mulai melakukan pengembangan pelayanan. Sejak tahun 2001 RSJM dikembangkan menjadi RSJ “plus” dengan beberapa tambahan pelayanan seperti: (1) pelayanan gawat darurat 24 jam, (2) pelayanan rawat jalan yang terdiri dari pelayanan poliklinik empat pelayanan dasar spesialistik, poliklinik gigi dan mulut, konsultasi psikologi, serta pelayanan rawat inap dengan kapasitas 120 tempat tidur (tt) dan pelayanan penunjang lainnya.

Bertambahnya jenis pelayanan akan menambah tenaga dokter terutama dokter spesialis. Dengan bertambahnya jumlah ketenagaan dengan berbagai keahlian, timbul masalah di RS, terutama pada sistem pembagian jasa pelayanan, seperti adanya rasa ketidakpuasan dengan apa yang diterima, bila dibandingkan dengan kontribusinya terhadap RS.

Tujuan penelitian ini adalah: a) untuk mengetahui perbedaan antara persepsi dan kinerja karyawan sebelum dengan sesudah revisi sistem pembagian jasa pelayanan, b) untuk mengetahui perbedaan antara persepsi dan kinerja karyawan sebelum dengan sesudah revisi sistem pembagian jasa pelayanan berdasarkan ciri individu, c) untuk mengetahui hubungan antara persepsi karyawan terhadap revisi sistem pembagian jasa pelayanan dengan kinerja karyawan berdasarkan jenis pekerjaan.

BAHAN DAN CARA PENELITIAN

Penelitian kuasa eksperimental ini menggunakan rancangan pre dan post study design without control group. Subjek penelitian adalah seluruh karyawan RSJ M (202), terdiri dari:

(a) 15 dokter (dokter umum 6 orang, dokter gigi 2 orang, dokter spesialis 7 orang),

(b) 130 paramedis,

(c) 58 karyawan lain.

Variabel bebasnya adalah: 1) revisi sistem pembagian jasa pelayanan, dan 2) persepsi terhadap sistem pembagian jasa pelayanan, meliputi keadilan, transparansi, waktu pemberian. Variabel terikat adalah: (1) kinerja dokter, meliputi presensi, kunjungan rawat jalan, serta jumlah visite, (2) kinerja dokter, paramedis, dan karyawan sebelum dan setelah revisi sistem jasa pelayanan, meliputi mutu pekerjaan, jumlah pekerjaan, efektivitas pembiayaan, dan inisiatif.

Ciri-ciri individu yaitu jenis kelamin, umur, masa kerja, golongan, dan jenis pekerjaan juga dikumpulkan datanya. Sumber data menggunakan data primer dan data sekunder. Data sekunder berasal dari catatan medik dan kepegawaian RSJ M untuk mengumpulkan data kinerja dokter enam bulan sebelum dan enam bulan sesudah revisi sistem jasa pelayanan. Data primer persepsi dan kinerja dokter, paramedis dan karyawan diperoleh melalui kuisioner. Kuisioner terdiri dari tiga bagian yaitu ciri karakteristik individu, persepsi karyawan terhadap sistem pembagian jasa pelayanan dan kinerja seluruh karyawan. Kuisioner sistem pembagian jasa pelayanan memuat 24 pertanyaan mengenai transparansi, keadilan, dan pertanyaan mengenai waktu pemberian jasa pelayanan. Penilaian menggunakan skala interval model Likert, skor penilaian berkisar antara 1 (sangat tidak setuju) hingga 4 (sangat setuju). Kuesioner kinerja dokter dan karyawan mempunyai 25 item pertanyaan yang mengukur mutu pekerjaan, jumlah pekerjaan, efektivitas, dan inisiasi.

Pertanyaan menggunakan skala likert dengan skala 1 (tidak pernah melakukan) hingga 5 (selalu melakukan).

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Responden mempunyai proporsi yang sama menurut jenis kelamin, berusia muda (<33 tahun) dengan lama kerja terbanyak <10 tahun dan sebagian besar berpendidikan diploma. Golongan I-II mendominasi karyawan RS. Perawat merupakan proporsi terbesar karyawan RS (hampir mencapai 65%). Rasio tt dengan perawat di RS ini sebesar 1: 1,8, sedangkan untuk dokter 1: 8,57

Perbandingan rata-rata persepsi responden terhadap sistem pembagian jasa pelayanan dan kinerja responden sebelum dan sesudah revisi sistem pembagian jasa pelayanan diuji dengan uji statistik paired t-test. Nilai positif (+) pada kolom selisih berarti penurunan, sedangkan nilai negatif (-) berarti peningkatan persepsi setelah revisi sistem pembagian jasa pelayanan. Perbedaan skor ratarata persepsi tentang sistem pembagian jasa pelayanan yang signifikan (p<0,05) terjadi pada aspek transparansi dan keadilan, dengan selisih sebesar 0,41 untuk aspek transparansi atau penurunan persepsi transparansi sebesar 2,5%. Penurunan yang lebih besar terdapat pada aspek keadilan dengan selisih sebesar 0,47 atau 3,3%.

Secara keseluruhan, persepsi juga menurun secara signifikan (selisih 0,91 atau 1,7%). Artinya revisi pembagian jasa pelayanan justru dianggap kurang transparansi dan adil, sedangkan waktu pembagiannya tidak ada perbedaan. Secara total skor kinerja hanya mengalami penurunan sebesar 0,06% dari rata-rata skor kinerja sebelum revisi sistem pembagian jasa pelayanan.

Tabel 3 menunjukkan bahwa pada kelompok dokter, terdapat peningkatan persepsi secara keseluruhan dan keadilan yang bermakna (p<0,05) antara sebelum dan setelah revisi sistem pembagian jasa pelayanan (selisih 3,57 atau meningkat 6,8% pada persepsi keseluruhan dan selisih 3,50 atau meningkat 6,7% pada aspek keadilan). Kinerja dokter juga mengalami peningkatan yang signifikan (p<0,05) setelah revisi sistem pembagian jasa pelayanan, walaupun hanya pada aspek jumlah kerja dan efektivitas biaya serta kinerja keseluruhan. Total peningkatan kinerja secara keseluruhan sebesar 3,64 atau meningkat sekitar 10%.

Responden paramedis secara bermakna menurun persepsinya tentang keadilan dan persepsi secara keseluruhan sebelum dan setelah revisi sistem pembagian jasa pelayanan (selisih 1,3462 atau menurun 2,6%). Kinerja paramedis tidak berbeda bermakna sebelum dan setelah revisi sistem pembagian jasa pelayanan. Semua hasil uji korelasi (Tabel 4) menunjukan hubungan yang signifikan antara persepsi terhadap sistem pembagian jasa pelayanan dengan kinerja setelah dilakukan revisi sistem pembagian jasa pelayanan. Namun demikian, korelasinya relatif lemah, kecuali pada persepsi dan kinerja keseluruhan (r 0.49). Tabel 5 menunjukkan korelasi pada berbagai latar belakang profesi karyawan.

Persepsi dokter tentang transparansi sistem pembagian jasa pelayanan berkorelasi bermakna dengan mutu pekerjaan (r 0,73) dan kinerja secara keseluruhan (r 0,62), sedangkan aspek waktu pembagian berhubungan dengan inisiatif dan kinerja dokter keseluruhan. Persepsi secara keseluruhan berhubungan bermakna dengan mutu kerja, inisiatif  kerja, dan kinerja secara keseluruhan dan korelasi terhadap mutu dan total kinerja kuat (r >0,8).

Pada kelompok paramedis, semua persepsi berkorelasi dengan semua kinerja, meskipun korelasinya lemah. Persepsi secara keseluruhan berkorelasi cukup kuat dengan kinerja secara keseluruhan.

 

PEMBAHASAN

Revisi sistem pembagian jasa pelayanan merupakan upaya manajemen RS untuk meningkatkan kinerja dokter yang dianggap masih lemah. Lemahnya kinerja dikarenakan dokter merasa insentif yang diterima tidak sebanding dengan besarnya kontribusi mereka. Dokter merasa mempunyai kontribusi terbesar dalam pelayanan kesehatan, walaupun jumlah dokter hanya kurang dari 10% dari jumlah seluruh karyawan. Dalam penelitian jumlah sampel dokter juga kecil (n=15). Secara keseluruhan, dampak revisi kebijakan tersebut justru menimbulkan kecemburuan pada karyawan lain. Hal tersebut terbukti dengan penurunan persepsi perawat terhadap sistem pembagian jasa pelayanan. Penurunan tersebut terjadi pada persepsi tentang keadilan dan transparansi sistem pembagian jasa pelayanan. Perawat dan karyawan secara keseluruhan menganggap sistem pembagian jasa pelayanan yang direvisi kurang adil dan kurang transparan. Namun, kinerja mereka relatif tetap karena tidak ada perbedaan yang signifikan kinerja semua perawat sebelum dengan setelah revisi sistem pembagian jasa pelayanan.

Salah satu faktor yang mungkin mempengaruhi lemahnya kekuatan hubungan antara persepsi terhadap sistem pembagian jasa pelayanan dengan kinerja adalah teknik atau pendekatan dalam pengukuran kinerja tersebut. Pengukuran kinerja yang dilakukan oleh individu bersangkutan adalah salah satu dari banyak teknik dalam mengukur kinerja karyawan. Setiap teknik pengukuran mempunyai kelebihan dan kelemahan. Penilaian kinerja oleh karyawan sendiri merupakan teknik yang sudah lama diterapkan di berbagai perusahaan di negara industri.

7 Penilaian diri sendiri sering digunakan pada bidang manajemen SDM, seperti pengukuran kebutuhan pelatihan, analisis peringkat jabatan, penilaian hasil kerja, inisiatif, perilaku, dan lain-lain.

Saran

Kepada pihak manajemen rumah sakit disarankan supaya meninjau kembali revisi sistem pembagian jasa pelayanan, terutama peninjauan dalam aspek keadilan dan transparansi dalam sistem pembagian jasa pelayanan. Perubahan yang dilakukan haruslah dengan melibatkan perwakilan setiap kelompok karyawan, serta sebelum diterapkan harus disosialisasikan terlebih dahulu.

Maka dengan demikian akan diharapkan terbentuknya satu persepsi yang sama terhadap sistem pembagian jasa pelayanan pada seluruh karyawan, sehingga tidak akan menimbulkanmasalah dengan sistem pembagian jasa pelayanan yang diterapkan. Pihak manajemen perlu melakukan evaluasi secara berkala terhadap sistem pembagian jasa pelayanan yang diterapkan. Hal ini bisa dilakukan dengan komunikasi yang aktif dan terbuka dengan semua kelompok karyawan yang ada, dengan begitu akan diketahui diketahui aspek mana dari ketiga aspek tersebut yang masih relevan atau diterima semua karyawan serta akan menjadi acuan dalam penentuan kebijakan baru. Dapat dilakukan penelitian lebih lanjut dalam hal kinerja dokter dan paramedis dengan metode penilaian dan instrumen lain.

sumber : http://images.paul02583.multiply.multiplycontent.com/attachment/0/RkU5awoKCnoAADtsmtw1/jurnal%20kesehatan.pdf?nmid=41894071

By liyaaliya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s