HUBUNGAN PENGETAHUAN, MOTIVASI DAN SUPERVISI DENGAN KINERJA PERAWAT DALAM MELAKSANAKAN PATIENT SAFETY DI RSUP Dr.WAHIDIN SUDIROHUSODO TAHUN 2012

HUBUNGAN PENGETAHUAN, MOTIVASI DAN SUPERVISI DENGAN KINERJA PERAWAT DALAM MELAKSANAKAN PATIENT SAFETY

DI RSUP Dr.WAHIDIN SUDIROHUSODO TAHUN 2012

 

A.Awaliya Anwar, Irwandy, Noer Bahry Noor

Bagian Manajemen Rumah Sakit Fakultas Kesehatan Masyarakat

Universitas Hasanuddin

 

 

ABSTRAK

Latar Belakang: Keselamatan pasien di defenisikan sebagai suatu sistem dimana rumah sakit membuat asuhan pasien yang lebih aman. Data insiden patient safety di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusudo selama tiga tahun terakhir belum sesuai dengan standar Kepmenkes No 129 tahun 2008. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis variabel yang mempengaruhi kinerja perawat dalam melaksanakan Patient Safety di Instalasi Gawat Darurat RSUP  Dr. Wahidin Sudirohusodo.

Metode: Jenis penelitian yang digunakan adalah rancangan analitik dengan pendekatan cross sectional study. Populasinya adalah seluruh perawat pelaksana di Instalasi Gawat Darurat  RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar yang berjumlah  74 orang. Metode pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan total sampling sehingga sampelnya sebesar 74 orang. Analisis data yang dilakukan adalah univariat dan bivariat dengan uji chi square.

Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari 73 orang perawat pelaksana, 71,2% (52 orang) memiliki pengetahuan baik, 50,7% (37 orang) memiliki motivasi sedang, 75,4% (55 orang) menilai supervisi kepala ruangan baik dan 82,2% (60 orang) memiliki kinerja baik. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan, motivasi dan supervisi terhadap kinerja perawat dalam melaksanakan program patient safety (p<0,05).

Saran: Peneliti menyarankan kepada tim KKPRS RSUP Dr. Wahidin Sudirohusudo untuk meningkatkan pengetahuan perawat melalui kegiatan sosialisasi dan pelatihan patient safety, kepada kepala ruangan agar menjalankan supervisi dengan benar dan kepada peneliti selanjutnya agar menambah variabel penelitian dan memperdalam penelitian dengan melakukan observasi untuk menilai kinerja.

 

Kata Kunci: Pengetahuan, Motivasi, Supervisi, Kinerja, Patient Safety

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

RELATION OF KNOWLEDGE, MOTIVATION AND SUPERVISION WITH PERFORMANCE BY NURSES IN IMPLEMENTING PATIENT SAFETY

IN Dr. WAHIDIN SUDIROHUSODO HOSPITAL 2012

 

A.Awaliya Anwar, Irwandy, Noer Bahry Noor

Hospital Management Department of Public Health Faculty of Hasanuddin University

 

ABSTRACT

Background: Patient safety is defined as a system where hospitals make patient care safer.The Incident data of Patient safety in Dr. Wahidin Sudirohusudo Hospital past three years have not been in accordance with the standard Kepmenkes No. 129 of 2008. This reserch aimed to analyze the variables that affect the nurse’s performance in implementing the Patient Safety in Emergency department of RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo.

Method: This research was using analytic design with cross sectional study approach. Population was all nurses in emergency department of RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Hospital, amounting to 74 people. Sampling method in this research was using the total sample so that the number sample was 74 people. Data analysis was performed with univariate and bivariate chi square test.

Results: The results of this study showed that of 73 nurses, 71.2% (52 people) have a good knowledge, 50.7% (37 people) have the enough motivation, 75.4% (55 people) answer good supervision, 82,2% (60 people) have a good performance. The results of bivariate analysis showed that there is a significant relationship between knowledge, motivation and supervision on the performance of nurses in performing patient safety program (p <0.05).

Suggested:  Researcher suggested to the KKPRS team Dr. Wahidin Sudirohusudo Hospital to improve nursing knowledge through socialization and training of patient safety, to the head of the room in order to exercise supervision to the good , to further research in order to Add variable and do observations to performance of nurses.

 

Keywords: Knowledge, motivation, supervision, performance, Patient Safety

 

 


 

PENDAHULUAN

 

Rumah sakit sebagai tempat pelayanan kesehatan modern adalah suatu organisasi  yang sangat komplek yang didalamnya sangat  padat modal, padat teknologi,  padat karya,  padat profesi,  padat sistem, dan padat mutu serta padat resiko sehingga tidak mengejutkan bila kejadian  tidak diinginkan  (adverse event) akan sering terjadi dan akan berakibat  terjadinya injuri atau kematian pada pasien.

Dengan makin meningkatnya perkembangan IPTEK kedokteran, meningkatnya tingkat pendidikan dan kesadaran masyarakat akan hak asazi manusia

 

 

 

maka rumah sakit tidak hanya dituntut untuk meningkatkan kualitas pelayanan tapi juga menjaga keselamatan pasien secara konsisten dan terus-menerus.

Keselamatan pasien didefenisikan sebagai suatu sistem dimana rumah sakit membuat asuhan yang aman. Sistem ini mencegah terjadinya cedera yang disebabkan oleh kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan (commision) atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil (ommision). (Kepmenkes tentang Keselamatan Pasien No.1691 Tahun 2011)

Salah satu rumah sakit yang telah menjalankan program Patient Safety adalah RSUP Dr.Wahidin Sudirohuso. RSUP Dr.Wahidin Sudirohuso adalah Rumah Sakit Tipe A yang menjadi pusat rujukan dari berbagai rumah sakit se Indonesia Timur dan sudah menjalankan program patient safety selama 4 tahun sejak tanggal 30 Maret 2008 yang dimulai pada empat unit pelayanan sebagai unit uji coba yaitu Instalasi Rawat Darurat (IRD),  Instalasi Bedah Pusat (IBP), Instalasi Care Unit (ICU), Perawatan Obstetri dan Ginekologi.

Pencapaian indikator Patient Safety di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo baik infeksi nosokomial, medication erorr, pasien jatuh, dan medical erorr belum sesuai standar Kepmenkes No 129 tahun 2008 tentang standar pelayanan minimal di rumah sakit.

Menurut teori Griffiths, insiden ini disebabkan oleh beberapa faktor yaitu faktor fasilitas rumah sakit yang belum memenuhi standar, faktor kepemimpinan dan faktor tenaga kerja itu sendiri baik dokter, perawat, bidan, apoteker, fisioterapis, dan profesi kesehatan lainnya. Sedangkan, menurut Nursalam (2011) faktor yang berpengaruh terhadap insiden Patient Safety adalah kinerja  individu perawat. 

       Menurut Gibson (1987), kinerja individu perawat dipengaruhi oleh 3 variabel yaitu variabel individu, variabel organisasi dan variabel psikologis. Variabel individu,   terdiri dari kemampuan, keterampilan, pengetahuan, demografi dan latar belakang keluarga. Variabel psikologi terdiri dari persepsi, sikap, motivasi, kepribadiaan dan belajar. Sedangkan, variabel organisasi terdiri dari sumber daya, imbalan, beban kerja, struktur, supervisi dan kepemimpinan.

Bertolak dari uraian di atas, peneliti tertarik untuk menganalisis ketiga variabel tersebut yaitu variabel pengetahuan, motivasi, dan supervisi terhadap kinerja perawat dalam melaksanakan program Patient Safety khususnya di Instalasi Gawat Darurat.

BAHAN DAN METODE PENELITIAN

 

  1. A.  Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Instalasi Gawat Darurat RSUP Dr. Wahidin Sudirohudo pada tanggal 26 Maret 2011– 22 April 2012.

 

  1. B.  Populasi dan Sampel

Populasi dan sampel dalam penelitian ini adalah semua perawat pelaksana di Instalasi Gawat Darurat RSUP Dr. Wahidin Sudirohudo. Pemilihan sampel dilakukan dengan cara Exhaustive Sampling.

 

C. Desain Penelitian

Jenis penielitian yang digunakan adalah survey analitik dengan pendekatan Cross Sectional Study, yaitu pendekatan yang sifatnya sesaat pada suatu waktu dan tidak diikuti terus menerus dalam kurun waktu tertentu.

 

D. Pengumpulan Data

Pengumpulan data diperoleh dengan cara, pengisian kuesioner oleh responden serta wawancara langsung kepada responden.

 

HASIL PENELITIAN

1. Karakteristik Responden

Tabel 1 menunjukkan gabungan 4 (empat) karakteristik responden, yaitu jenis kelamin, kelompok umur, tingkat pendidikan dan masa kerja responden. Untuk distribusi responden menurut jenis kelamin, lebih banyak responden dari jenis kelamin perempuan dengan perbandingan 1:3. Menurut kelompok umur yang paling banyak berada pada kelompok umur 30-39 tahun sebanyak 75,3% (55 orang) dan yang paling sedikit berada pada kelompok umur 50-59 tahun.

Menurut tingkat pendidikan, 69,9% berpendidikan D3. Sedangkan menurut masa kerja, 79,5% telah bekerja selama lebih dari lima tahun.

 

2. Deskriptif Variabel

a. Pengetahuan

Berdasarkan hasil analisis pada tabel 2, menunjukkan bahwa sebagian besar responden atau sebesar 71,2% (52 orang)  memiliki pengetahuan yang baik mengenai konsep Patient Safety dan hanya terdapat 4,1% (3 orang) yang mempunyai pengetahuan kurang.

 

b. Motivasi

Berdasarkan hasil analisis pada tabel 3, menunjukkan bahwa sebagian besar (74%) perawat pelaksana memiliki motivasi sedang dalam melaksanakan program Patient Safety. Sedangkan perawat pelaksana yang memiliki motivasi tinggi hanya sebesar 13,7% (10 orang).

 

c. Supervisi

Berdasarkan hasil analisis pada tabel 4, sebagian besar responden (75,3%) menjawab supervisi yang dilakukan kepala ruangan baik. Sedangkan responden yang menjawab supervisi kurang hanya sebesar 5,5% (4 orang).

 

d. Kinerja

Berdasarkan hasil analisis pada tabel 5, rata-rata kinerja perawat pelaksana (82,2%) memiliki kinerja yang baik dalam melaksanakan program Patient Safety dan hanya terdapat 17,8 % perawat pelaksana yang memiliki kinerja rendah dalam melaksanakan program Patient Safety

 

3. Hubungan Antar Variabel

a.  Hubungan pengetahuan dengan kinerja perawat dalam melaksanakan patient safety

Hasil uji bivariat (Chi-Squre) antara variabel pengetahuan dengan kinerja perawat pelaksana dalam melaksanakan program patient safety menunjukkan adanya 3 sel yang memiliki nilai expected lebih dari 5. Oleh karena itu, dilakukan uji alternatif Chi-Square yaitu uji Fisher sehingga diperoleh nilai p=0,00 yang lebih kecil dari nilai α=0,05. Hal ini mengidikasikan Ho ditolak dan Ha diterima. Dengan demikian, disimpulkan bahwa terdapat hubungan variabel pengetahuan dengan kinerja. Gambaran hubungan kedua variabel dapat dilihat pada tabel 6.

 

b.  Hubungan motivasi dengan kinerja perawat dalam melaksanakan patient safety

Hasil uji bivariat (Chi-Square) antara variabel motivasi dengan kinerja perawat pelaksana dalam melaksanakan program Patient Safety menunjukkan adanya 2 sel yang memiliki nilai expected lebih dari 5. Oleh karena itu, dilakukan uji alternatif Chi-Square yaitu uji Fisher sehingga diperoleh nilai p=0,00 yang lebih kecil dari nilai α=0,05. Hal ini mengidikasikan Ho ditolak dan Ha diterima. Dengan demikian, disimpulkan bahwa terdapat hubungan signifikan  antara variabel motivasi dan kinerja. Gambaran hubungan kedua variabel dapat dilihat pada tebel 7.

 

c.  Hubungan supervisi dengan kinerja perawat dalam melaksanakan patient safety

Hasil uji bivariat (Chi-Square) antara variabel supervisi kepala ruangan dengan kinerja perawat pelaksana dalam melaksanakan program Patient Safety menunjukkan adanya 3 sel yang memiliki nilai expected lebih dari 5. Oleh karena itu, dilakukan uji alternatif Chi-Square yaitu uji Fisher sehingga diperoleh nilai p= 0,00 yang lebih kecil dari nilai α = 0,05. Hal ini mengidikasikan Ho ditolak dan Ha diterima. Dengan demikian, disimpulkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara variabel supervisi dengan kinerja. Gambaran hubungan kedua variabel dapat dilihat pada tebel 8.

 

PEMBAHASAN

1. Hubungan Pengetahuan dengan Kinerja

Pengetahuan yang dimaksud pada penelitian ini adalah pemahaman responden mengenai konsep patient safety yang meliputi definisi, tujuan, standar patient safety, dan sasaran patient safety.

Berdasarkan hasil penelitian, pengetahuan responden mengenai konsep patient safety 71,2 % berada pada kategori tinggi, 24,7 % berada pada kategori cukup, dan 4,1 % berada pada kategori rendah. Meskipun 71,2 % responden berada pada pada kategori tinggi, namun ada beberapa item pertanyaan yang dianggap sangat penting seperti defenisi patient safety, tujuan patient safety, dan sasaran patient safety yang belum mampu dijawab dengan benar oleh responden.

Berdasarkan distribusi jawaban responden, terlihat bahwa presentase pertanyaan benar terendah yaitu pada item pertanyaan sasaran patient safety ((46,6%), dan langkah-langkah untuk mengurangi kejadian jatuh pada pasien (45,2%). Hal ini membuktikan bahwa tingginya angka insiden pasien jatuh di Instalasi Gawat Darurat (IGD) karena pengetahuan perawat untuk mengurangi resiko pasien jatuh masih rendah. Hasil penelitian ini menjadi perhatian yang sangat serius bagi pihak manajemen untuk meningkatkan pengetahuan perawat mengenai konsep patient safety.

Salah satu cara meningkatkan pengetahuan yang berguna untuk memperbaiki efektifitas pelayanan dalam mencapai kinerja yang baik demi keselamatan dan kepuasan pasien adalah dengan melakukan sosialisasi. Sosialisasi patient safety adalah termasuk kebijakan strategi program patient safety RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo yaitu pada item Pendidikan, pelatihan dan penelitian. Namun, belum semua perawat (8,2%) pernah mendapatkan sosialisasi patient safety .

Beberapa penelitian terkait, salah satunya yaitu penelitian yang dilakukan oleh Sri Rahayu (2010) yang berjudul “Pengembangan Program Patient Safety Berdasarkan Analisis Pengaruh Faktor Pengetahuan, Persepsi, Awareness, Komitmen dan Efektifitas Teamwork terhadap Kinerja Pelaksanaan Patient Safety” menunjukkan adanya pengaruh pengetahuan, persepsi, awareness, komitmen dan efektifitas terhadap kinerja pelaksanaan Patient Safety.

Berdasarkan uji statistik dengan menggunakan chi-square menunjukkan nilai p = 0,00 yang lebih kecil dari nilai α = 0,05. Hal ini mengidikasikan Ho ditolak dan Ha diterima. Dengan demikian, disimpulkan bahwa terdapat pengaruh antara variabel pengetahuan terhadap kinerja.

Hasil yang diperoleh di atas sesuai dengan teori Notoatmodjo (2007) yang menyatakan bahwa pengetahuan merupakan hasil tahu melalui penginderaan terhadap suatu obyek tertentu dan sangat penting terhadap terbentuknya tindakan seseorang.

 

2. Hubungan Motivasi dengan Kinerja

Motivasi yang dimaksud pada penelitian ini adalah dorongan yang timbul pada diri responden untuk menerapkan atau tidak menerapkan program patient safety.

Berdasarkan hasil penelitian, hanya 28,8 %  responden yang memiliki motivasi tinggi, 50,7% memiliki motivasi sedang dan 20,5% memiliki motivasi rendah. Kurangnya responden yang memiliki motivasi tinggi dalam melaksanakan program patient safety jika dilihat berdasarkan teori Herzberg’s dapat disebabkan oleh dua faktor yaitu, Hygine Factor meliputi gaji, kondisi kerja fisik, kepastian pekerjaan, supervisi yang menyenangkan dan Motivation Factors menyangkut kebutuhan psikologis seseorang yaitu perasaan sempuran dalam melakukan pekerjaan. Faktor motivasi ini berhubungan dengan penghargaan terhadap pribadi yang secara langsung berkaitan dengan pekerjaannya. Mengelola dan mempertahankan motivasi kerja perawat pelaksana merupakan hal penting dalam organisasi rumah sakit. Jika ini diabaikan maka akan mempengaruhi kinerja perawat.

Berdasarkan distibusi jawaban responden, terlihat bahwa persentase jawaban sangat tidak setuju  tertinggi (28,7%) pada item pernyataan “saya terdorong melaksanakan program patient safety  karena berpeluang mendapatkan promosi jabatan dan menambah insentif yang saya terima.” Berdasarkan hasil wawancara, perawat tersebut menyatakan bahwa “saya tidak termotivasi melaksanakan program patient safety  karena, meskipun saya melaksanakan dengan baik program patient safety  karier saya tetap mentok sebagai perawat pelaksana dan gaji saya tidak bertambah.”

Sedangkan, persentase jawaban sangat setuju tertinggi (32,9%) pada item pernyataan “Saya senang melaksanakan program patient safety (keselamatan pasien) untuk mendukung  kebijakan-kebijakan & prosedur-prosedur kerja yang dibuat oleh rumah sakit.” Menurut teori Mc. Gregor kelompok perawat ini berada pada kelompok Y yang berasumsi bahwa pada hakekatnya kebanyakan manusia lebih suka bekerja. Bekerja merupakan kegiatan alami seperti halnya bermain. Sikap dasar ini juga beranggapan bahwa kontrol terhadap diri sendiri merupakan suatu hal yang esensial.

Berdasarkan uji statistik dengan menggunakan chi-square menunjukkan nilai p = 0,00 lebih kecil dari nilai α = 0,05. Hal ini mengidikasikan Ho ditolak dan Ha diterima. Dengan demikian, disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara variabel motivasi dengan kinerja.

Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Rina Amelia (2009) yang menyatakan bahwa, motivasi berpengaruh terhadap kinerja perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan pasien gangguan jiwa di Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Sumatera Utara, Medan. Hasil yang sama juga ditemukan oleh Soehartono (2004) yang menyatakan bahwa motivasi dan gaya kepemimpinan berpengaruh terhadap peningkatan kinerja pegawai.

Hasil tersebut dapat diartikan dengan motivasi tinggi maka kinerja perawat dalam mendukung penerapan program patient safety akan semakin tinggi pula, pada motivasi rendah akan menghasilkan kinerja perawat dalam mendukung penerapan program patient safety rendah, karena motivasi mempunyai arti mendasar sebagai inisiatif penggerak perilaku seseorang secara optimal, hal ini disebabkan karena motivasi merupakan kondisi internal, kejiwaan dan mental manusia seperti aneka keinginan, harapan kebutuhan, dorongan dan kesukaan yang mendorong individu untuk berperilaku kerja guna mencapai tujuan yang dikehendakinya, dan bertanggung jawab serta berani menghadapi resikosesuai keyakinannya.

Namun, penelitian yang dilakukan oleh Syamsyu Alam (2008) menyatakan bahwa motivasi tidak mempunyai hubungan yang signifikan dengan kinerja. Hasil penelitian tersebut bertolak belakang dengan teori Gibson (1987) yang manyatakan motivasi mempengaruhi kinerja. Dari perbedaan hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa setiap organisasi mempunyai faktor berbeda yang akan mempengaruhi kinerja staf, tergantung dari faktor yang dipilih pemimpin untuk meningkatkan kinerja stafnya. (Hasibuan 2007)

 

3. Hubungan Supervisi dengan Kinerja

Implementasi program Patient Safety bukanlah hal yang mudah karena pada dasarnya adalah upaya rekayasa budaya organisasi, ke arah budaya keselamatan pasien. Dengan demikian peran leadership menjadi titik strategis dalam upaya implementasi dan keberhasilan Patient Safety.

Salah satu tugas dari pemimpin adalah melakukan supervisi kepada bawahannya dalam hal ini, supervisi kepala ruangan kepada perawat pelaksana. Supervisi merupakan salah satu bagian proses atau kegiatan dari fungsi pengawasan dan pengendalian (controlling).

Supervisi adalah pemberian bimbingan, pengarahan, observasi dan evaluasi terhadap tindakan keperawatan dan pendokumentasian tiap-tiap tahap proses keperawatann serta pendokumentasian mengenai kejadian adverse event.

Berdasarkan hasil penelitian pelaksanaan supervisi yang dilakukan kepala ruangan kepada perawat pelaksana di Instalasi Gawat Darurat RSUP Dr.Wahidin Sudirohusodo 75,4% berada pada kategori baik, hanya  terdapat 2,7%  responden yang menjawab supervisi kepala ruangan masih kurang khususnya dalam hal pemeberian pengarahan dan petunjuk apabila perawat pelaksana melakukan kesalahan baik kesalahan karena tidak melakukan tindakan yang seharusnya dilakukan maupun kesalahan melakukan prosedur (SOP) yang telah ditetapkan.

Menurut Handoko dalam Agung (2009) supervisi yang dilakukan oleh atasan merupakan salah satu faktor penentu dalam sistem manajemen dengan tujuan memberikan bantuan kepada bawahan secara langsung sehingga bawahan memiliki bekal yang cukup untuk melaksanakan pekerjaan.

Tujuan pokok dari supervisi ialah menjamin pelaksanaan berbagai kegiatan yang telah direncanakan secara benar dan tepat, dalam arti lebih efektif dan efesien, sehingga menghasilkan kinerja yang baik dan tujuan yang telah ditetapkan organisasi dapat dicapai dengan memuaskan.

Berdasarkan uji statistik dengan menggunakan chi-square untuk mengetahuai pengaruh supervisi kepala ruangan terhadap kinerja diperoleh hasil, nilai p = 0,00 lebih kecil dari nilai α = 0,05. Hal ini mengidikasikan Ho ditolak dan Ha diterima. Dengan demikian, disimpulkan bahwa terdapat pengaruh variabel supervisi terhadap kinerja.

Hasil yang sama juga ditemukan oleh Atik Ba’diah (2008) yang menyatakan bahwa supervisi berhubungan dengan kinerja perawat. Hal ini menggambarkan bahwa apabila kepala ruangan melakukan supervisi dengan baik maka perawat pelaksana juga akan menghasilkan kinerja yang baik begitu pula sebaliknya. Namun, hasil penelitian ini bertolak belakang dengan penelitian yang dilakukan oleh Rahayu Dewi Murwani (2007) yang memperoleh hasil bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara pelaksanaan supervisi keperawatan dengan kinerja perawat di Rumah Sakit Islam Kustati Surakarta.

 

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

1. Terdapat hubungan antara pengetahuan  mengenai konsep Patient Safety dengan kinerja perawat dalam melaksanakan program Patient Safety.

2.  Terdapat hubungan antara motivasi perawat dalam melaksanakan Patient Safety dengan kinerja perawat dalam melaksanakan program Patient Safety.

3. Terdapat hubungan antara supervisi yang dilakukan kepala ruangan dengan kinerja perawat dalam melaksanakan program Patient Safety.

 

B.  Saran

1. Kepada tim KPRS RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar.

1)  Peningkatan pengetahuan perawat pelaksana

Diperlukanpelaksanaan pendidikan dan pelatihan lebih mendalam mengenai konsep patient safety. Misalnya dengan menekankan tujuan pelaksanaan program patient safety, mempekenalkan sasaran patient safety, pencatatan dan pelaporan serta  menyadarkan pentingnya mengetahui langkah-langkah pencegahan pasien jatuh.

2)  Peningkatan motivasi

Berdasarkan hasil penelitian, perawat pelaksana di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo termotivasi melakukan patient safety karena mendapat dukunngan dari rekan kerja dan pimpinan. Alasan lainnya karena ingin mendukung kebijakan dan prosedur yang dibuat rumah sakit. Oleh karena itu peneiliti menyarankan:

a.Meningkatkan dan mempertahankan motivasi melalui dukungan dari rekan kerja dan pimpinan.

b.Memperbanyak prosedur-prosedur dalam bentuk poster misalnya poster cara mencuci tangan yang benar, prosedur cara pemberian obat yang  yang ditempelkan disetiap ruangan.

2. Kepada Kepala Ruangan Instalasi Gawat Darurat

       Pelaksanaan supervisi lebih ditingkatkan dengan tidak hanya melakukan evaluasi terhadap kinerja perawat tetapi juga melakukan bimbingan, pengarahan dan memberikan solusi apabila perawat ditemukan  melakukan kesalahan.

3. Kepada Peneliti Selanjutnya

Menambah variabel lain yang mempengaruhi kinerja dan memperdalam penelitiaan dengan melakukan observasi langsung kepada responden untuk menilai kinerja perawat dalam hal pelaksanaan patient safety.

 

DAFTAR PUSTAKA

Agus Sudaryanto, dkk. 2008. Model-Model Supervisi Keperawatan Klinik. Berita Ilmu Keperawatan, ISSN 1979-2697, Vol. 1 No. 4 ,Desember 2008, 193-196. http://www.scribd.com/doc/74363356/manajemen-atma (diakses pada tanggal 21 Maret 2012)

 

Agung Pribadi.2009. Analisis Pengaruh Faktor Pengetahuan, Motivasi, dan Persepsi Perawat tentang Supervisi Kepala Ruang terhadap Pelaksanaan Dokumentasi Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat Inap RSUD Kelet Provinsi Jawa Tengah di Jepara. Tesis. Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat Konsentrasi Administrasi Rumah Sakit Universitas Diponegoro.

 

Alam Syamsu, dkk. 2008. Hubungan Karakteristik Individu dan Motivasi terhadap Kinerja Asuhan Perawatan di BP RSUD Labuang Baji Makassar. Vol 1, No2 Tahun 2008.

 

Ariyani. 2009. Analisis Pengetahuan dan Motivasi Perawat yang Mempengaruhi Sikap Mendukung Penerapan Program Patient Safety di Instalasi Perawatan Intensif RSUD DR. Moewardi Surakarta Tahun 2008. Tesis. Universitas Diponegoro Semarang.

 

Atik Ba’diah dkk. Hubungan Motivasi Perawat dengan kinerja perawat di ruang Rawat Inap RSUD Penambahan Senopati Bantul Tahun 2008. Vol 12, No 2, Juni 2009.

 

Dahlan Sopiyudin. 2005. Statistik Untuk Kedokteran dan Kesehatan. Ciracas: Salemba Medika.

 

DepKes RI, Panduan Nasional Keselamatan Pasien di Rumah Sakit,2008.

 

Dewi Maryam. 2009. Hubungan Penerapan Tindakan Keselamatan Pasien oleh Perawat Pelaksana Dengan Kepuasan Pasien Di RSU Dr. Soetomo Surabaya. Buletin penelitian RSU Dr. Soetomo, Vol 4, No11, Desember 2009.

 

Firmansyah. 2009. Pengaruh Karakteristik Organisasi terhadap Kinerja Perawat dalam Melaksanakan asuhan Keperawatan Untuk Membantu Promosi Kesehatan di Rumah Sakit Sigli. Tesis. Universitas Sumatera Utara Medan.

 

Hesty Arbie. 2012. Analisis Implementasi Prgram Patient Safety Berdasarkan International Goals Dari Joint Commission International (JCI) Di Rumah Sakit DR. Wahidin Sudirohusodo Makassar. Tesis. Universitas Hasanuddin Makassar.

 

Hasibuan S.P Malayu. 2007. Organisasi dan Motivasi, Dasar Peningkatan Produktivitas. Jakarta: Bumi Aksara.

 

Hidayat Alimul Aziz A,.2004. Pengantar Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.

 

KKPRS, 2008. Panduan Patient Safety RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo. Makassar: Tim KKP RSWS.

 

Kotler. Philip. 1997. Manajemen Pemasaran: Analisis, Perencanaan, Implementasi, dan Pengendalian. Edisi IX.Jakarta: salemba Empat.

 

Muliati Lia, dkk. 2010. Pengembangan Budaya Patient Safety  Dalam Praktek Keperawatan.

 

Notoatmodjo Soekidjo. 2007. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jakarta: Rineka Cipta

 

—————————— 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta

 

Nursalam. 2002. Manajemen Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.

 

———— 2011.Manajemen Keperawatan Edisi 3. Jakarta: Salemba Medika.

 

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia (Permenkes) Nomor 1691/MENKES/PER/VIII/2011 Tentang Keselamatan Pasien Rumah Sakit.

Rahayu, Dewi Murwani. 2007. Hubungan Supervisi Keperawatan Dengan Kinerja Perawat Di Rumah Sakit Umum Islam Kustati Surakarta. Thesis, Universitas Muhammadiyah Surakarta. http://etd.eprints.ums.ac.id/16611/ (diakses tanggal 17 Mei 2012)

Raidah. 2011. Faktor Resiko Infeksi Luka Operasi Pasca Bedah Sesar di RSUP Dr.Sardjito Yogyakarta Tahun 2011. Skripsi,  Universitas Hasanuddin, Makassar.

 

Rina Amelia. Pengaruh Motivasi Berprestasi Terhadap Kinerja Perawat Dalam Asuhan Keperawatan Pasien Gangguan Jiwa Di Rumah Sakit Jiwa Daerah Propinsi Sumetera Utara Medan. Majalah Kedokteran Nusantara Vol 42, No. 1, Maret 2009.

 

Rusmi Sari Tajuddin. 2010. Analisis Faktor Penyebab Medication Erorr di Instalasi Rawat Darurat RS Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar. Tesis, Universitas Hasanuddin, MakassarImage

About these ads
By liyaaliya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s